Nikmati Keluhuran dan Keagungan Indonesia Dengan Menikmati Wisata Sejarah

Nikmati Keluhuran dan Keagungan Indonesia Dengan Menikmati Wisata Sejarah

Indonesia adalah Negara yang agung dan adi luhung serta banyak menyimpan cerita tentang sejarah. Sejarah merupakan hal yang sudah terjadi di masa lalu dan merupakan saksi dari peristiwa yang terjadi di masa lalu. Kenangan kenangan akan peristiwa di masa lalu dan keinginan untuk bisa merasakan apa yang terjadi di masa lalu membuat sejarah juga menjadi dasar dari mengapa wisatawan mau untuk datang dan berkunjung ke Indonesia. Sebagai daerah kerjaan pada dulunya dan juga merupakan Negara jajahan tentunya memiliki banyak hal yang bersejarah ada di Indonesia. Maka dari itu Indonesia sangat layak jika dijadikan tempat wisata sejarah. Dengan adanya tempat wisata sejarah tersebut Indonesia seharusnya lebih peduli akan peninggalan peninggalan bangsanya.

Salah satu bukti ke agungan dan ke adi luhungan Indonesia adalah bangunan bangunan bersejarahnya. Bangunan bangunan tua yang ada di Indonesia menjadi sejarah tersendiri bagi peradaban bangsa. Bangunan bangunan itu seperti bangunan candi Borobudur, candi prambanan dan juga bangunan bangunan bekas penjajahan belanda dan jepang. Ketika kita berada di daerah tersebut, kita akan merasakan aura yang mendalam dari peninggalan tersebut dan tentunya membuat kita menjadi lebih baik dalam mengapresiasi sejarah. Maka dari itu perlu diingat wisata sejarah berasal dari kata sejarah itu sendiri. Sejarah merupakan hal yang sudah terjadi di masa lalu dan merupakan saksi dari peristiwa yang terjadi di masa lalu. Menjaga ke Adiluhungan adalah tugas kita bersama.

Semua hal yang terjadi di masa lalu memiliki cerita. Kenangan kenangan akan peristiwa di masa lalu dan keinginan untuk bisa merasakan apa yang terjadi di masa lalu membuat sejarah juga menjadi dasar dari mengapa wisatawan mau untuk datang dan berkunjung ke Indonesia. Sebagai daerah kerjaan pada dulunya dan juga merupakan Negara jajahan tentunya memiliki banyak hal yang bersejarah ada di Indonesia. Maka dari itu Indonesia sangat layak jika dijadikan tempat wisata sejarah. Dengan adanya tempat wisata sejarah tersebut seharusnya lebih peduli akan peninggalan peninggalan bangsanya.

Wisata Horor Lawang Sewu, Semarang

Wisata Horor Lawang Sewu, Semarang

Lawang Sewu berada di Kota Semarang, Jawa Tengah. Lokasinya mudah dijangkau karena berada di tengah kota atau di depan Tugu Muda Semarang. Bangunannya kokoh dan bergaya Eropa klasik. Dari depan, anda akan bisa menangkap, bangunan tua ini menyimpan cerita dan sejarah yang cukup panjang.

Disebut Lawang Sewu karena bangunan ini memiliki pintu dan jendela yang sangat banyak. Karena terlalu banyak, maka orang-orang langsung menyebutnya pintu seribu atau dalam bahasa jawa adalah Lawang Sewu. Lawang Sewu sendiri sudah ada sejak tahun 1907. Bangunan klasik ini dulu dipakai sebagai kantor kereta api Belanda.

Memiliki arsitektur gothic yang menarik dan terlihat sangat kokoh, itulah Lawang Sewu. Tidak perlu AC untuk mendinginkan seluruh ruangan yang ada di bangunan ini, karena tersedia ruang bawah tanah yang khusu menyimpan air. Nantinya, air tersebut akan masuk ke dalam pori-pori tembok bangunan hingga seluruh ruangan akan terasa sejuk.

Namun sayang, fungsi ruang bawah tanah sebagai penyimpanan air berubah saat Jepang merebut kekuasaan Belanda. Ruang bawah tanah menjadi penjara atau tempat tawanan para tahanan hingga kemudian berubah menjadi angker. Anda bisa mengunjungi ruang bawah tanah jika ingin dengan membayar sekitar Rp 10.000 dan didampingi pemandu wisata Lawang Sewu, tertarik?

Setelah Indonesia merdeka, fungsi Lawang Sewu pun dikembalikan menjadi kantor Kereta Api Indonesia atau KAI. Oleh karenanya, anda akan melihat sejarah yang berhubungan dengan kereta api Indonesia di sini. Untuk masuk ke wisata Lawang Sewu, anda hanya perlu membayar tiket seharga Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak. Ada tour guide yang akan memandu anda dengan harga Rp 30.000. Sedikit tips, jika anda datang sendiri, anda bisa ikut dalam suatu rombongan agar hemat biaya tour guide.

Anda akan diajak berkeliling Lawang Sewu hingga ke lantai paling atas bangunan ini. Jika dulu Lawang Sewu dikenal karena wisata horornya, saat ini, Lawang Sewu berusaha memperkenalkan lebih menonjol dari sisi sejarahnya. Lawang Sewu memang pernah menjadi lokasi syuting sebuah acara TV Nasional yang berbau mistis, tapi terlepas dari hawa horornya, Lawang Sewu masih mempesona dari sisi sejarah dan arsitekturnya. Petualangan Indonesia.

Liburan Berpetualang Ke Dunia Roh

Liburan Berpetualang Ke Dunia Roh

Memasuki wilayah Tana Toraja serasa memasuki ‘dunia lain’. Di tempat inilah kehidupan dan kematian bagai tak berbatas. Mereka yang sudah meninggal tapi belum sempat dimakamkan, tetap tinggal di rumah dan diperlakukan seperti anggota keluarga yang masih hidup. Sementara mereka yang hidup, rela menjalani hari-hari dengan sangat sederhana agar bisa menabung sebanyak-banyaknya untuk bekal menyambut kematian. Ziarah wisata dan budaya yang sungguh eksotis!

Setelah sekian lama menjadi cita-cita, akhirnya pada liburan long weekend Agustus lalu, saya bersama suami berhasil menginjakkan kaki di Tana Toraja, meski waktunya terhitung sangat mepet –hanya tiga hari dua malam pulang-pergi– dengan risiko tubuh bonyok kecapekan.

Soalnya, untuk mencapai Tana Toraja, tak ada cara lain kecuali lewat darat. Waktu tempuh minimum tujuh jam dari Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan –menggunakan kendaraan pribadi, sewaan, atau naik bus umum. Saya memilih naik  bus yang hampir setiap jam berangkat dari terminal Makassar. Ada beberapa perusahaan bus yang melayani trayek Makassar-Tana Toraja,  dari patas non-AC hingga yang AC dan berhenti di setiap tempat. Baca juga Berpetualang Di Alam Wisata Cimahi AWC.

Ternyata, perkiraan tujuh jam hanya di atas kertas, dengan asumsi jalanan lancar, kondisi kendaraan tokcer, dan hari cerah. Berangkat pukul 8 pagi, melewati beberapa kota dan kabupaten, antara lain  Pangkajene, Pare Pare, dan Enrekang, perjalanan kami berkali-kali terhambat oleh lomba gerak jalan menyambut 17 Agustusan. Bahkan, di Enrekang, jalan utama ditutup sampai sore untuk gerak jalan, sehingga semua kendaraan harus lewat jalan alternatif yang memutar.  Untunglah kami cukup terhibur dengan pemandangan indah berbukit-bukit di sepanjang perjalanan, terutama saat melewati Pegunungan Nona yang sore hari tampil dengan lekuk-lekuk lerengnya yang sempurna.

Alhasil, hari sudah lewat senja ketika bus memasuki wilayah Tana Toraja. Dan, ternyata perjalanan belum berakhir. Berhenti sebentar di Makale (ibukota Kabupaten Tana Toraja), baru pukul 19.30 kami tiba di Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara, yang merupakan  pusat budaya suku Toraja. Jika ditotal, lama perjalanan kami mencapai 11,5 jam!

Namun, semua kelelahan terbayar lunas pada keesokan harinya. Meski termasuk dingin –Rantepao dikelilingi pegunungan– kami disambut pagi yang cerah tanpa kabut. Apalagi, pagi itu kami ditemani oleh Gibson Danga, pria asli Toraja yang sehari-hari bekerja sebagai guide. “Siap bertualang ke dunia roh?” ia menantang sambil tertawa. Uh, siapa takut?

Gibson agak menyayangkan kami baru tiba kemarin malam. “Coba datang kemarin pagi, kamu bisa lihat upacara pemakaman, meskipun hanya potong dua kerbau,” katanya. Bukannya menyesal, saya justru bersyukur. Sedahsyat apa pun kata orang upacara itu, saya tak bakal pernah bisa menikmati adegan pembantaian korban kerbau dan babi. Tak hanya ngeri melihat darah berceceran, saya juga tak tega mendengar lolong ketakutan hewan-hewan yang lehernya akan ditebas.

Namun, saya beruntung karena hari itu bertepatan dengan hari pasaran kerbau (disebut Pasar Tedong), yang jatuh setiap enam hari sekali. Lapangan rumput luas di depan Pasar Bolu (pasar tradisional utama di Rantepao), yang pada hari-hari biasa lengang, hari itu semarak. Ratusan kerbau dan babi memenuhi lapangan, lengkap dengan pemilik mereka. Hari pasar kerbau ini juga menjadi atraksi bonus bagi wisatawan, terutama dari mancanegara yang jumlahnya lumayan banyak.

Hampir semua kerbau yang dijual besar dan gemuk. “Di sini, kerbau dipelihara dengan sangat baik, karena merupakan aset sekaligus simbol sosial orang Toraja.  Makin banyak kerbau yang dimiliki, makin terhormat dia di mata masyarakat. Karena itu, di sini kerbau tidak boleh disuruh kerja di sawah dan setiap hari dimandikan, sementara orangnya belum tentu…,” ujar Gibson, tertawa. Ia menambahkan, produsen sampo jangan bangga dulu bila produknya laris di Toraja. Soalnya, di sini kerbau rutin ‘dikeramasi’ pakai sampo agar kulit mereka hitam mengilat! Petualangan Indonesia.

Coban Rondo, Mitos dan Legendanya

Coban Rondo, Mitos dan Legendanya

Kita warga Malang tidak mungkin asing dengan nama Coban Rondo. Air terjun ini terletak di desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Malang Jawa timur. Coban ini memiliki ketinggian 85 meter, dan berada di ketinggian 1.135 m dari permukaan air laut. Pada bagian atas coban ini terdapat air terjun kembar, bernama coban manten, yang menyatu menjadi coban dudo dan mengalir ke bawah menjadi coban rondo. Sumber air dari ketiga air terjun ini berada di atas coban manten, suatu dataran tanpa pohon satu biji pun di daerah kepundan. Perjalanan ke mata air ini membutuhkan perjuangan ekstra karena medan yang licin dan jarak yang lumayan jauh (3-4 km).

Legenda di balik penamaan air terjun ini sudah tersiar luas. Berawal dari sepasang pengantin baru bernama Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo yang ingin melakukan perjalanan ke Gunung Anjasmoro, konflik berawal ketika keinginan itu ditentang orangtua Dewi Anjarwati karena usia pernikahan mereka yang baru memasuki Selapan (36 hari dalam bahas jawa). Akan tetapi mereka bersikeras dan akhirnya bahaya pun ditemui di tengah jalan. Entah dari mana, muncullah Joko Lelono yang terpikat kecantikan Dewi Anjarwati. Perkelahian pun tak terelakkan. Raden baron Kusumo lantas memerintahkan punokawannya untuk menyembunyikan Dewi Anjarwati di sebuah coban (air terjun) dan di saat akhirnya pertarungannya dengan Joko Lelono berbuah kematian keduanya, tinggallah Dewi Anjarwati menjadi janda (rondo).Hingga akhirnya tempat persembunyian Dewi Anjarwati disebut sebagai Coban Rondo.

Mitos yang berkembang di tempat ini adalah jika datang ke tempat ini bersama kekasih, hubungan mereka akan kandas. Entah apakah kebenarannya dapat ditelusuri, akan tetapi yang jelas, pastilah mitos ini didasari dan terinspirasi dari kisah Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo. Meskipun hanya mitos,daerah tropis ini pastilah terlintas di benak pengunjung dan bagi orang-orang yang percaya hal-hal mistis dan supranatural sebagai bahan pertimbangan ulang untuk plesir mengunjungi tempat ini.

Berkaitan dengan mitos dan hal-hal mistis, tiap tempat wisata pastilah memiliki pantangan sendiri. Dan tentu saja begitu pula dengan Coban Rondo. Larangan ini tidak tertulis dengan gamblang, akan tetapi masyarakat sekitar mematuhinya dengan rasa tunduk luar biasa karena kepercayaan mereka terhadap makhluk halus penunggu coban. Aturan-aturan dasar seperti dilarang berkata kotor, buang sampah sembarangan, buang air sembarangan, dan lain-lain bagai terpatri di benak masyarakat.

Tentu saja larangan memiliki hukuman bagi pelanggarnya, dan itulah yang terjadi pada teman saya. Di saat diselenggarakannya acara kampus di Coban Rondo, beberapa mahasiswa melanggar “aturan-aturan tak terlihat” itu. Dilaporkan bahwa mereka berlaku “tidak sopan” dengan buang air kecil sembarangan, teriak-teriak, dan berkata-kata kotor. Hukuman pun dijatuhkan dan mereka pun mengalami peristiwa supranatural seperti “diikuti” dan yang lebih parah kesurupan.
Exorcism pun harus dilakukan untuk menyadarkan mereka dan hal ini menjadi pengalaman tak terlupakan bagi mereka. Mereka mendapatkan pelajaran untuk menjaga kelakuan mereka dengan apa yang disebut masyarakat sebagai pengalaman supranatural.

Meski diselimuti oleh legenda, mitos, dan cerita-cerita “halus” Coban Rondo tetap memiliki pesona sendiri. Sebagai surga bagi pelancong dan turis yang akan terhanyut oleh sejuknya air dari air terjun janda Dewi Anjarwati. Petualangan Indonesia.