Petualangan Semalam Di Karapan Sapi Madura

Petualangan Semalam Di Karapan Sapi Madura

Karapan sapi adalah sebuah acara khas tiap tahunan di pulau Madura yang dulunya hanya bisa saya lihat di tipi saja. Namun, semua itu berubah pada tahun 2010 kemarin karena bersama teman-teman Komunitas plurk Madura saya bisa melihat perayaan tahunan yang digelar di madura ini. Luar biasa selama kurang lebih sudah hampir 2 tahun lebih di Madura untuk kuliah baru kali itu melihat langsung secara nyata perayaan akbar piala presiden karapan sapi yang diadakan di Stadion R. SOENARTO HADIWIDJOJO Pamekasan.

Sehari sebelumnya saya dan teman-teman plurker memang ada kopdar komunitas plurker di Hotel putri di Pamekasan. Setelah kopdar teman-teman bersama-sama punya keinginan untuk menonton piala presiden karapan sapi. Sehingga dengan susah payah kita harus lebih lama di pamekasan dan mencari tempat menginap. kenapa tidak di Hotel aja?

Baru tahu juga ternyata sebelum acara Piala Presiden Karapan sapi itu dilaksanakan sehari sebelumnya ada sebuah acara yang katanya ditujukan untuk menghibur turis asing yang juga telah datang sehari seblum nonton karapan sapi yang disebut dengan acara Semalam di Madura. Sehingga mendengar kabar itu kita langsung aja menuju TKP dan larut dalam keramaian di sekitar Tugu Arek Lanchor yang merupakan landmark Kabupaten Pamekasan yang sudah dipadati banyak pengunjung serta wisatawan asing.

Semalam di Madura ini adalah acara yang memadukan sebuah tarian, fashion show serta penampilan musik Ul daul khas Madura. Tari-tarian ini pun beragam dan setiap kabupaten di Madura mempunyai tarian masing-masing mulai dari Tari dari bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep bergantian menghibur para pengunjung yang telah datang untuk melihat acara tersebut. Selain itu, fashion show disini juga memamerkan kekayaan batik madura yang beragam dan sangat cantik seperti batik tanjung bumi, batik terkenal dari Madura ini begitu cantik di pertontonkan oleh model yang lenggak-lenggok di panggung yang merupakan kachong dan jebbing setiap kabupaten yang ada di pulau garam ini. Disertai beberapa penampilan kesenian Madura yang ikut berpartisipasi meramaikan malam itu menambah semarak acara semalam di Madura tersebut. Pantas saja acara ini disebut dengan Semalam di Madura karena hanya dengan semalam saja kita bisa menikmati aneka ragam potensi pulau Madura dari kesenianya, hasil batik-nya, serta tari-tarianya dan juga musik khas Madura yaitu Ul daulnya.

Sampai tak terasa larut malam tiba kita hampir tak tahu mau menginap dimana? hingga akhirnya seorang teman dari Madura mengajak kita menginap gratis dengan modal KTP yaitu di tempat rumah dinas wakil walikota. Iyah kita semua tidur di musholla tersebut coy.. pengalaman semalam di Madura yang tak terlupakan.

Hingga akhirnya esok tiba sudah saatnya kita menuju stadion R. SOENARTO HADIWIDJOJO Pamekasan. Sesampainya disana luar biasa ramenya stadion itu yang telah dipadati banyak sekali wisatawan mulai dari bangkalan, sampang, pamekasan dan sumenep hingga luar pulau dan luar negeri. Sekedar informasi piala presiden lomba karapan sapi ini memang hanya ada di Pulau madura jadi jelas saja antusiasme penonton tidak diragukan lagi.

Memasuki stadion yang telah disulap jadi tempat lomba karapan sapi ini kita agak susah mencari tempat yang benar-benar tepat dan pas untuk menonton karapan sapi dengan jelas karena padatnya penonton waktu itu hingga jurus ndusel dan usel kita terapkan sehingga kita bisa berada di tepat batas penghalang lomba karapan sapi tersebut.

Karapan sapi adalah hal menarik yang harus anda saksikan secara langsung di Madura karena akan berbeda rasa dan tantanganya ketika anda harus melihat di tipi dan merasakan atmosfer perlombaan ini di lapangan. Bagaimana tidak? Karapan sapi ini sudah menjadi ajang adu gengsi di pulau yang terkenal dengan garamnya ini. Seperti perlombaan yang bisa mengangkat derajat sang pemilik karapan, serta derajat dari 4 kabupaten yang ada di pulau Madura ini. Jangan heran apabila anda mendapati harga sapi karapan ini bisa sampai ratusan juta..iyah benar ratusan juta cuy..Hem rambo milik pak presiden SBY untuk hari raya korban kemarin masih kalah jauh dengan harga seekor sapi karapan ini cuy.

Sejarah karapan sapi Madura

Menurut cerita sejarah karapan sapi itu diperkenalkan oleh seorang pangeran katandur yang menggunakan sapi untuk membajak sawahnya. Karena pada awalnya sang pangeran hanya berencana menggarap gersang dan tidak subur itu agar bisa digunakan untuk bercocok tanam. Setelah beberapa lama ternyata manfaat menggunakan sapi dalam mengolah dan membajak sawah ini begitu terasa dengan panen yang sukses hingga banyak orang mengikuti membajak sawah dengan menggunakan jasa 2 sapi dalam mengolah sawahnya.

Karapan atau kerapan berasal dari kata kerap atau kirap yang artinya berangkat dan dilepas secara bersamaan. Mulanya perlombaan karapan sapi ini muncul karena kegembiraan para petani yang telah sukses panen raya sehingga diadakanlah lomba balapan sapi di tempat sawah mereka yang becek dan berlumpur dan telah dipanen untuk sekedar hiburan saja. serta perlombaan itu di iringi oleh teriakan seru para petani disertai pukulan atau kepakan telapak tangan sang pengemudi yang mengarah ke bokong atau pantat sapi tersebut untuk memeriahkan lomba tersebut. Begitulah awal sejarah dan silsilah lomba balapan sapi yang saat ini terkenal dengan Karapan sapi Madura.

Beberapa saat setelah mendapatkan tempat yang nyaman dan dirasa pas untuk melihat aksi perlombaan karapan sapi. Pembukaan acara karapan sapi ini mempertontonkan sebuah tarian khas Madura yang diperagakan oleh anak-anak SMA sepertinya. Kemudian dilanjut dengan lagu-lagu karapan sapi dan sebuah nyanyian oleh pengiring setiap sapi karapan dengan bunyi-bunyian dari alat musik khas Madura yang disebut dengan terompet seronen. Petualangan Indonesia.

Curug Cileat Wisata Berpetualang Ala Indiana Jones

Curug Cileat Wisata Berpetualang Ala Indiana Jones

Jalan setapak, kicauan burung, dan kawanan monyet yang bergelantungan di pepohonan membuat kami merasa berada dalam film Indiana Jones. Tapi yang kami cari bukan harta karun, melainkan sebuah curug atau air terjun Cileat yang berada di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dari Kota Subang, arahkan kendaraan Anda ke arah selatan, menuju Desa Mayang di Kecamatan Cisalak. Curug Cileat berada di kawasan perbukitan desa ini.

Pematang sawah menjadi jalur pertama yang kami lewati. Tak jauh dari situ, mengalir sungai jernih berarus deras yang hulunya berada di puncak Curug Cileat. Suara gemuruh air sungai tersebut terdengar hingga kami memasuki jalan setapak di tengah hutan.

Lambat laun, suara gemuruh itu digantikan oleh suara kicauan burung yang saling bersahutan diselingi teriakan monyet-monyet liar. Para monyet itu bergelantungan di atas pohon, tak begitu jauh dari jalan setapak yang kami lalui, seakan menyabut kedatangan kami.

Di perjalanan, kami berpapasan dengan para petani yang memiliki sawah di lereng bukit. Kadang mereka membawa serta kerbau mereka. Ada pula para pengumpul aren yang memanjat pohon aren yang memang banyak terdapat pohonnya disana.

Setelah melewati jalan setapak yang cukup panjang dan menanjak, kami sampai di sebuah air terjun. Tunggu dulu, bukan ini yang disebut dengan Curug Cileat. Air terjun (yang  dalam bahasa Sunda disebut Curug) ini tidak terlalu besar, namun bisa menjadi lokasi istirahat sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Curug Cileat. Cuci muka di air dinginnya membuat kami segar kembali.

Perjalanan selanjutnya lebih menantang. Suasana hutan tropis makin kental. Kami melewati jalan setapak yang berada di antara tebing dan jurang yang kadang dalam. Suasana menjadi sedikit gelap karena rimbunan pohon yang semakin rapat.

Bagi Anda yang kehabisan air minum, tak perlu khawatir karena di dinding tebingnya banyak sumber air yang memancar. Tentu saja air ini bisa langsung diminum. Murni dan segar!

Kami sampai pada air terjun berikutnya. Lagi-lagi, bukan ini Curug Cileat yang dimaksud. Disini kami kembali beristirahat sambil menikmati keindahan air terjun. Kami tak berlama-lama istirahat karena Curug Cileat yang menjadi tujuan utama masih lumayan jauh. Sebenarnya tak jauh dari situ kami melewati air terjun lagi, tapi agar cepat sampai ke air terjun utama kami hanya menikmatinya sambil terus melanjutkan perjalanan.

Kemudian kami melewati hamparan sawah berundak. Pemandangannya serupa dengan pesawahan di Ubud, Bali! Di tengah sawahnya, terdapat sebuah saung yang juga dijadikan tempat pengolahan gula aren oleh petani setempat. Anda juga bisa istirahat di saung ini, sambil menyaksikan aktivitas para petani.

Jarak dari saung ini menuju Curug Cileat tinggal satu kilometer lagi. Mulai dari sini, kawanan monyet semakin banyak. Mereka bergelantungan di pohon, bahkan terkadang jaraknya sangat dekat dengan kita!

Semakin dekat dengan Curug Cileat, suara gemuruh air makin kencang. Akhirnya, kami melihat air terjun yang menakjubkan ini. Letih perjalanan seketika terobati. Airnya yang deras sukses membuat kami basah kuyup, walaupun masih berjarak 100 meter dari air terjunnya. Air yang sangat dingin ditambah udara yang menusuk tulang membuat kami menggigil.

Puas berbasah-basahan, saatnya kami pulang. Tunggu dulu, tak lengkap rasanya bila Anda berkunjung ke sini tanpa membawa buah tangan. Gula aren buatan para petani di saung tengah sawah tadi bisa dijadikan oleh-oleh, atau menjadi camilan sepanjang perjalanan pulang menuruni bukit. Manisnya gula aren menjadi tenaga tambahan yang menemani sepanjang perjalanan kami pulang. Petualangan Indonesia.

Wisata Petualangan Dunia Lain Di Yogyakarta Rumah Kanthil

Wisata Petualangan Dunia Lain Di Yogyakarta Rumah Kanthil

Pintu di sisi utara Jalan Mondorakan itu dari luar hanya tampak seperti pintu garasi dari kayu yang sudah usang. Tidak tampak ada yang menarik dari pintu itu, apa lagi yang berada di balik pintu itu. Pintu kayu lapuk tersebut terdiri dari dua daun pintu yang masing-masing lebarnya sekitar dua meter, cukup besar memang. Pada salah satu daun pintu terdapat sebuah pintu kecil, sehingga tepat jika disebut dengan pintu yang berpintu. Pintu itulah yang digunakan sebgai jalan keluar masuk ketika pintu utama ditutup.

Jika kita mencoba masuk, selepas dari pintu besar tadi terbentang jalan tanah selebar sekitar empat meter yang dibatasi oleh dinding bangunan di kedua sisinya. Jalan itu tidak panjang, sekitar lima belas meter saja, dan di ujungnya telah menanti dengan angkuhnya sebuah menara penerima/penerus sinyal salah satu operator telepon seluler berikut pagar kelilingnya yang begitu masif. Dari ujung jalan ini, untuk terus menuju ke utara harus terlebih dahulu mengitari pagar menara itu. Tepat di sisi utara pagar menara berdiri sebuah rumah tua yang jelas tidak lagi ditinggali.

Rumah tua itu saat ini letaknya memang sudah sangat terbuka. Di samping dan belakangnya langsung berbatasan dengan rumah penduduk, selain bagian depan rumah yang telah berubah menjadi menara tadi (menara itu menempati lahan bekas pendapa rumah tua itu). Namun begitu, terasa nuansa yang lain ketika mencoba mendekati rumah tua itu, apa lagi mencoba masuk ke dalamnya. Memang, menurut warga Kota Gede, rumah yang dikenal dengan nama Rumah Kanthil itu ada “penunggunya” yang dikenal dengan nama Barowo. Keangkeran rumah tua itu sudah begitu dikenal oleh warga kawasan yang sudah sangat akrab dengan organisasi Islam besar bernama Muhammadiyah itu.

Sejak sekitar hampir 5 tahun yang lalu Rumah Kanthil ini semakin populer, tidak hanya di kalangan warga Kota Gede saja, tetapi juga warga Yogyakarta pada umumnya, bahkan kota-kota lain di Jawa. Menariknya, menurut M. Natsir dari Yayasan Kanthil Kota Gede, sempat ada rombongan dari luar kota Yogyakarta yang datang ke Kota Gede mencarter bus wisata hanya untuk mencari Rumah Kanthil ini. Hal ini tidak lepas dari peristiwa ketika Rumah Kanthil dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar acara reality show yang populer dengan uji nyalinya, yaitu “Dunia Lain” yang ditukangi oleh Trans TV. Tak ayal lagi, banyak orang yang semakin penasaran dengan Rumah Kanthil. Kedatangan rombongan “turis” tadi menjadi salah satu dampak nyatanya.

Sejarah Omah Kanthil

Kawasan Kanthil berada sekitar 230 meter di barat laut Pasar Kotagede. Persisnya di RT 49, RW 10 Kampung Trunojayan. Nama Kanthil diambil dari nama pohon kanthil (Michelia champaka) yang pernah tumbuh di sana. Pohon kanthil ini tumbuh besar, sehingga banyak dikeramatkan orang. Di dekat pohon kanthil, ada sebuah lumpang dari batu hitam. Sama seperti pohon kanthil, lumpang itu pun dikeramatkan warga. Ada yang percaya, orang yang kakinya lumpuh jika dimandikan di lumpang tersebut bakalan bisa sembuh.

Pemilik Rumah Kanthil adalah Karto Jalal, atau sebagian warga lebih mengenalnya dengan Karto Kanthil. Ia adalah seorang saudagar kaya di Kotagede. Usaha yang digelutinya adalah batik. Ketika batik Kotagede mengalami masa keemasan di tahun 1940-1960, Karto Kanthil pun mendulang untung. Kala itu, harga jarik amat mahal. Orang rela menukarkan tanahnya yang seluas ratusan meter dengan dua atau tiga potong kain jarik. Tak heran, rumah dan tanah Karto Kanthil pun terserak di segala pelosok Kotagede.

Kalau Karto Kanthil mempunyai hajatan menikahkan anaknya, pestanya tujuh hari tujuh malam. Pengantinnya diarak keliling Pasar Kotagede. Pengantin laki-lakinya mengendarai kuda. Pengantin perempuannya naik tandu hias yang dipikul empat orang lelaki. Keluarga yang lain mengendarai kereta kuda hias. Sedangkan anak-anak yang mengiringi naik kremun (tandu kecil), di belakangnya barisan umbul-umbul, rontek bertugas sebagai pramuladi pun pria-pria pilihan, gagah-gagah berkulit kuning langsat. Pemuda-pemuda itu diambil dari kampung-kampung di Kotagede yang tergabung dalam paguyuban Susilo Mudho.

Setelah tahun 1960, usaha batik di Kotagede surut drastis, termasuk juga usaha milik Karto Kanthil. Beberapa puluh tahun kemudian, tanah-tanah Karto Kanthil satu demi satu dijual oleh ahli warisnya. Malah, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, tak jarang ahli waris menjual murah barang-barang yang masih tersisa, seperti tempat tidur besi, tanggem, daun jendela, dandang, soblok, almari, dan aneka barang remeh temeh lainnya.

Di sekitar tahun 1990 an, salah seorang menantu Karto Kantil pernah mengeluh, bahwa beberapa tanah miliknya telah dipakai oleh pemerintah tanpa seijin dirinya. Malah, di tanah yang menurut menantu tersebut adalah miliknya, telah didirikan bangunan gedung kantor pemerintah. Salah satunya adalah Balai Diklat PU di timur jembatan Winong, Kotagede. Menantu Karto Kantil tersebut mengaku pernah mengurusnya, namun karena tiadanya bukti legal formal tertulis, sang menantu tersebut akhirnya kalah.

Sebagai ruang publik, tak banyak jejak yang bisa dilacak dari pendapa Kanthil. Selain pernah menjadi tempat ibadah sholat tarawih pengajian anak-anak Komariyah Masjid Perak, pendapa Kanthil jarang sekali dimanfaatkan untuk kepentingan publik.

Nasib tragis pendapa Kanthil punya kisah tersendiri. Waktu itu di tahun 1990-an, seorang menantu dari Karto Kanthil sedang punya hajat menjual pohon mangga. Karena tukang tebangnya kurang perhitungan, ranting besar pohon itu menimpa pendapa Kanthil yang ada di dekatnya. Akibatnya, pendapa Kanthil pun miring. Karena tidak punya biaya untuk mengembalikan pendapa seperti semula, pendapa Kanthil itu dibiarkan miring dalam waktu yang lama. Keadaan ini diterkam makelar pendapa. Benar saja. Tak sampai hitungan tahun, pendapa Kanthil pun tercerabut dari tempatnya.

Kini, kawasan Kanthil telah sangat berubah. Rumah tanpa induk semang itu sedang menunggu kehancurannya. Kelabang, cacing, kalajengking, dan dhemit kini tinggal di sana. Karena dikenal angker, Rumah Kanthil pun pernah dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar acara “Dunia Lain”, yang ditayangkan oleh sebuah televisi swasta nasional. Petualangan Indonesia.

Petualangan Mengarungi Sungai Bawah Tanah Cave Tubing Gua Pindul

Petualangan Mengarungi Sungai Bawah Tanah Cave Tubing Gua Pindul

Rasakan sensasi pelusuran sungai di dalam gua menggunakan ban pelampung. Sambil menyusuri gelapnya lorong gua yang berhiaskan stalaktit dan stalagmit yang indah, Anda juga akan disodori dengan legenda pengembaraan Joko Singlulung mencari ayahnya.

Menyusuri sungai menggunakan perahu karet merupakan hal yang biasa, namun jika sungai itu mengalir di dalam gua tentu saja akan menjadi petualangan yang mengasyikkan sekaligus menegangkan. Gua Pindul, salah satu gua yang merupakan rangkaian dari 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah yang ada di Desa Bejiharjo, Karangmojo, menawarkan sensasi petualangan tersebut. Selama kurang lebih 45 – 60 menit wisatawan akan diajak menyusuri sungai di gelapnya perut bumi sepanjang 300 m menggunakan ban pelampung. Petualangan yang memadukan aktivitas body rafting dan caving ini dikenal dengan istilah cave tubing.

Tidak diperlukan persiapan khusus untuk melakukan cave tubing di Gua Pindul. Peralatan yang dibutuhkan hanyalah ban pelampung, life vest, serta head lamp yang semuanya sudah disediakan oleh pengelola. Aliran sungai yang sangat tenang menjadikan aktivitas ini aman dilakukan oleh siapapun, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Waktu terbaik untuk cave tubing di Gua Pindul adalah pagi hari sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB. Selain karena airnya tidak terlalu dingin, jika cuaca sedang cerah pada jam-jam tersebut akan muncul cahaya surga yang berasal dari sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah besar di atap gua.

Sambil merasakan dinginnya air sungai yang membelai tubuh di tengah gua yang minim pencahayaan, seorang pemandu bercerita tentang asal-usul penamaan Gua Pindul. Menurut legenda yang dipercayai masyarakat dan dikisahkan turun temurun, nama Gua Pindul dan gua-gua lain yang ada di Bejiharjo tak bisa dipisahkan dari cerita pengembaraan Joko Singlulung mencari ayahnya. Setelah menjelajahi hutan lebat, gunung, dan sungai, Joko Singlulung pun memasuki gua-gua yang ada di Bejiharjo. Saat masuk ke salah satu gua mendadak Joko Singlulung terbentur batu, sehingga gua tersebut dinamakan Gua Pindul yang berasal dari kata pipi gebendul.

Selain menceritakan tentang legenda Gua Pindul, pemandu pun akan menjelaskan ornamen yang ditemui di sepanjang pengarungan. Di gua ini terdapat beberapa ornamen cantik seperti batu kristal, moonmilk, serta stalaktit dan stalagmit yang indah. Sebuah pilar raksasa yang terbentuk dari proses pertemuan stalaktit dan stalagmit yang usianya mencapai ribuan tahun menghadang di depan. Di beberapa bagian atap gua juga terdapat lukisan alami yang diciptakan oleh kelelawar penghuni gua. Di tengah gua terdapat satu tempat yang menyerupai kolam besar dan biasanya dijadikan tempat beristirahat sejenak sehingga wisatawan dapat berenang atau terjun dari ketinggian. Tatkala Petualangan Indonesia masih menikmati indahnya ornamen gua di sela bunyi kepak kelelawar dan kecipak air, mendadak pengarungan sudah sampai di mulut keluar gua. Bendungan Banyumoto yang dibangun sejak jaman Belanda dengan latar belakang perbukitan karst pun menyambut.

Jam Buka: Senin – Minggu (pk 08.00 – 16.00 WIB).